Gerimis Hati Asyikin

Gerimis Hati Asyikin

TV3@ 2016

TV3@ 2016
#gerimishatiasyikin #alhidayahproductions #tv3

Bila Ajal Menanti

Bila Ajal Menanti
#bilaajalmenanti #tsarasiasdnbhd #tvalhijrah

Karyaku ...

Telemovie BILA AJAL MENANTI di TV ALHIJRAH. 3 JULAI, 2015 @ 10pm. Karya / Konsep / Skrip / SHAHRIZAD SHAFIAN. Arahan : Tn AIDIL FITRI MY @TSAR ASIA SDN BHD.

بسم الله الرحمن الرحيم

Junjungan Baginda Rasulullah SAW bersabda :

" La takhaf wa la tahzan, innallaha ma'anaa."

- Don't be afraid and don't be sad, indeed Allah is always being with you.-

*... ASTAGHFIRULLAHAL ADZIM ALLADZILA ILAHA ILAHUWAL HAYYUL QAYYUMU WA ATUßU ILAIH...*

AL WAHID

"so remember me, I will remember you. And be grateful to me and do not deny me."

(Al Bakarah 2:152)

Selamat Datang Ke Blog

Shahrizad Shafian

(penulis)

"Telah ku sediakan hamparan doa,pautan wasiat,selaut rindu dan cinta seluas langit biru buat kalian. Andai daku dijemput dulu, sudilah kiranya di sedekahkan surah Al Fatihah buatku. Itu saja hadiah yang ku mahu. Kerana ku tahu, amalan yang ada padaku tidak cukup walaupun pada sujud doa malam-malamku. Ya Labbaika, kasihanilah insan-insan yang mengasihani aku."


JANJI ADAM di DRAMA FESTIVAL KL 2014

JANJI ADAM di DRAMA FESTIVAL KL 2014
Lets vote for JANJI ADAM for all categories at Drama Festival KL 2014

JANJI ADAM

JANJI ADAM
Bermula 24 Sept, 2013 di Slot Azalea (4pm-5pm) TV3. Selama 20 Ep. JOM tonton karya kita yang kedua selepas LEBARAN KASIH. Your feedback are more than welcome.

JANJI ADAM PROMO

Monday, December 30, 2013

TODAY HE TURNS 9 & IN TWO DAYS TIME HE IS 10

HAPPY BIRTHDAY AMEER ADAM HAYZEN

Look at how fast the time flies
its like going into the twilight zone
over the years I began to realized
pretty soon you'll shall a world of your own

Greetings & phrases will come & go
wishing you lots of love for you to grow
gifts & presents lots to show
for the birthday boy, so everyone knows

I wanted to get you the best gift ever
either your favorite toy or a book that you'd like to read
but no gift that I can give is even better
wishing the Al Mighty keeps you in need

My prayers are so close you to
at sometimes you bound to bounce at one or two
believe in Allah as how much I believe in you
Insya Allah, till Jannah Allah SWT shall lead you

Your love is incredibly amazing
you gave so much, for things to tolerate
you kept it simple, as detail saying
you gave your share, so apposite of your age

Be happy my dearest 'Bear'
even tho there's no party here & there
trust me, we will be with you fair & square
life is precious, you were meant to be ours - no despair



Monday, December 16, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit - Anak dibuang, sampah dipungut

Oleh : Ngajad

Kerana terlalu leka dengan kemewahan dunia
sehingga kabur pandangan mata hati
yang indah kelihatan dalam memuja
manakala yang buruk sakit di caci
rentakkan saja hentakkan kaki amarah
jeritan seusia tidak pernah mengenal senja
yang di dukung, di kendong  dibuang mendakap parah
melarat nasib bertaburan niat dibelai manja

Mentak kilauan intan cintuh raganya
tabir malam menyelimut seutas rahsia
ratapan bintang berkeliaran sebaya
hilang bulan kerana tersalah pandang
salah mereka ditelunjuk berang

Yang dikendong dituduh dosa
yang berpakat melaksanakannya adalah cinta
sakit dan malu sendiri terasa
balasan dunia cukup sengsara
sehingga terlupa azab kubur dan makam di neraka

Berpakat-pakat menyusun acara maksiat
ceria suasana sehingga leka
antara kita berdua, jelas sudah bertiga
raja syaitan sudah menghantar PA nya
yang kurang bijak tidak berfikir
yang terlebih bijak jarang berfikir
sana, sini dan situ juga
jikalau dosa tetap berdosa
setimpal balasan seperti janji yang ESA

***

Kehidupan di hujung zaman seperti yang disebutkan didalam Al Quran. Semakin jauh dari melakukan yang benar. Siapa akan selematkan kita ? Masih tidak takutkah kita? Masih belum mahu membuat persediaan kah kita? Masing-masing dengan kemewahan dan kekayaan masing-masing. Sehingga dengan sengaja terlupa dalam sekelip mata Allah SWT boleh menjadikan yang kaya menjadi miskin dan yang mewah akan hidup susah. Siapa Allah SWT sebenarnya di hati mereka menyebabkan mereka sanggup melupakan NYA?

Bertaubatlah demi memperingati sesungguhnya Allah SWT itu menepati janji. Janji NYA - kepada barang sesiapa yang melakukan kebaikan akan ditempatkan di dalam Syurga dan manakala yang melakukan keburukan akan di humbankan didalam Neraka Jahanam. Itulah Janji Allah SWT.

Wednesday, December 11, 2013

Ngajad Tiga Seringgit. Little Things

Oleh : Ngajad


When little things matter the most
it capture the entire space in your tiny heart
it stays there for the longest time, felt so closed
even you, yourself cant make it go, its not that hard

Every little things that touches your soul
are meant for you to keep
never put your life on hold
when the precious are in need

It takes awhile to finally realized
whatever come, it shall quickly go
life is not full of sympathized
its what made you so that you can grow

Get hurt a little, felt the pain while you mingled
learn whats worth fighting for
stand to what you believe
and do not believe to what you're unable to stand for

It was supposed to simply
as easy as ABC
read the manual maybe then you able to see
its impossible for life to begin with a Zees

Crucial moments is when you don't have the time
pleasure is when the time stood by
in time is when that's all the time you're got
at the end it was supposed to be a lot

Part of me had come and gone
leaving only sweet memories by the door
only if I knew these little things to be borne
shouldn't have taken my time to adore

For those whom waited to listen for awhile
maybe wondering with a smile
put up hopes as far as a mile
gave nothing more just gesture in a A4 size file

Little things make me misses her so much
can't give it away, unable to let it go
sitting here hang onto time wouldn't letting it dutch
it's not easy, but it is time to grow

As the manual I referred as the Holy Quran
have faith in whatever you do
nothing is like taking life for granted
but nevertheless  The Almighty will always be with you

To my precious, dearest, baby AMEERAH ASHA
my thoughts, my prayers are always just for you
never little less, always little more
wishing Allah SWT kept you and loves you more

11/12/13 p/s ... i made a note!

Thursday, November 28, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit ... Doa ku kepada yang ESA

Oleh : Ngajad

Dengan nama MU Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih
disaat aku bersujud meyembah mu
disaat dingin sepenghujung waktu
ku tutup rapat mata kuyu ku
ku pujuk hati nan sayu
tika jiwa ku beralaskan tikar sejadah tua
ku letakkan segala luka dan nestapa
tidak pandai aku menyusun yang mana lebih parah, yang mana lebih derita
namun tetap ku taburkan kesemuanya
alam membisu tidak mampu membantu
cahaya bulan kian kelam
sebaik saja sinaran bintang hilang semalam
sebelum sempat aku melafazkan NAMA MU
sebelum tersebut sebagaimana BESAR nikmat MU
air mata terlebih dahulu membasahi kekurangan ku
teresak-esak tangisan sesalan ku
sepantas ia mengimbau segala dosa dan noda satu per satu
pendek dan pantas pernafasan ku, di tahan sekuat hati
aku menangis ketika aku sedang mencari erti

Ya Labbaika,
doa kali ini, semoga KAU kabulkan
bukan buat diri ku tetapi untuk insan yang ku hormati lagi ku kasihi
sudah terlalu banyak ujian yang KAU berikan kepada dia
sudah terlalu lama dugaan KAU sampaikan untuk dia
untuk kali ini, KAU kasihanilah dia
sebagaimana dia selalu mengasihani akan kami
sebagaimana dia selalu mendoakan kesejahteraan buat kami
sebagaimana dia selalu mengutamakan kebahagiaan untuk kami

Ya Labbaika,
berikanlah dia nikmat kasih sayang MU
pinjamkanlah dia anugerah kebahagiaan MU
agar mudah bagi dia menjalani ujian kali ini

Sesungguhnya kami tak punya apa-apa
hanya barisan-barisan doa, itu sajalah nilai harta
sudilah kiranya YA ALLAH, KAU mudahkanlah segala urusannya dan berkatilah segala usahanya
tanpa dia, kami akan menjadi kekok menjalani kehidupan di dunia

YA WAHID,
Kasihanilah suami ku, sebagaimana KAU mengasahi hamba-hamba MU yang solleh.
AMIN YRA.



Monday, July 15, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit ... Buat pertama kalinya dalam seumur hidup ku.

Oleh : Ngajad

HAPPY BIRTHDAY PAPA

Ini pertama kalinya ku rakamkan ucapan yang sedemikian. Terkilan di jiwa seadanya kerana belum pernah selama ini disampaikan.  Ada mungkin ucapan ini tepat pada hari nya namun ia sudah terlambat. Papa sudah tiada di muka dunia untuk menerima ucapan yang demikian. Namun bukan sekadar ucapan mahu ku sampaikan. Dengan tanda keikhlasan, surrah Yassin dan Al-Fatihah kini dalam perjalanan. Insya Allah, Allah SWT yang Maha Kaya bakal mencucuri limpahan rahmat di atas roh mu.

Pergi lah Papa pergi .... moga Papa damai dan ditempatkan bersama muslimin yang beriman.
Nantilah Papa nanti ... akan ku munajatkan setiap doa untuk diri mu sebagai tanda ingatan.

AL-FATIHAH





Monday, March 11, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit - Grobak - si penjaja di kaki lima

Oleh : Ngajad

Grobak mengikis sisa senja
debu-debuan jalanan
menjadi pakaian siangnya
terik mentari merah
tiada belas kasihan
kepada murah nasibnya
si grobak tua
terus menghitung balang-balang dosa
pada taburan pahala
menghilang di kaca usia
akhir senja
bermuntah jelaga
kerana tidur
pada malam jemu tiada selera

Cihampelas, Bandung
210213
***


Thursday, March 7, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit ... Itulah yang terakhir

Oleh : Ngajad

Debaran jiwa melonjak-lonjak
semenjak siang ditinggalkan tenang
perjalanan yang jauh semakin dekat
kepada pertemuan dalam penantian
jingga senja di hujung masa
redup hari seperti mengerti
membiarkan mereka bertiga duduk sendiri
tika lisan membisu yang tinggal hanya bicara dari hati ke hati
letih kejauhan di simpan sunyi
kerana rindu membara untuk kemari
sesungguhnya inilah rancangan ILAHI
untuk bertemu buat terakhir kalinya sebelum mati

"Ma, jomlah balik ...." merenggek si manja di dalam kereta, lelahnya dia tidak terkira. Kerana perjalanan dari selatan ke utara, cukup rasanya untuk pulang sahaja.

"Sekejaplah sayang. Biarkan Abah dengan abang-abangnya, mungkin mereka sedang melepaskan rindu, agaknya ..." cuba memujuk mudah-mudahn si manja menjadi selesa, sesungguhnya di wajah mereka laksana jentayu menantikan hujan,  tidak ubah seperti melepaskan rindu sehingga kesampaian.



Petang ini seperti sengaja tangguh-tangguhkan. Singgahnya bayu seperti ada yang mahu dinyatakan. Damainya raga seperti di letakkan. Inilah tiga beradik bertemu di hujung rindu.

Sebelum pulang daripada senja tadi, dia berhajat lalu berpesan ...
"Esok malam, makan sini ya? Kita buat bakar-bakar ..." (bakar-bakar orang utara sebut sebagai BBQ)

Sekali angguk, semua setuju. Kami tidak kekok, terujanya kami ... sesungguhnya kami mahu.
***

Janji semalam ditepati malam ini. Hadirnya kami memeriahkan lagi. Berasap sudah perkarangan juadah, menantikan kami datang untuk bersinggah. Sebelum santapan bermula, ada hajat, ada suara ...

"Hari ini kita baca doa kesyukuran, esok kita baca doa tahlil pulak ..." Pakcik Azni, terbantut seleranya ... cubitan hidangan tadi kini di letakkan semula. Dengan wajahnya separa terasa, kami memahami, kami turut ketawa dengannya. Ada Imam dikalangan kita, mengetuai doa dalam satu sebutan. Semua serentak meng AMIN kannya. Semoga hidangan ini mendapat berkat dari NYA.

Kami di layan mewah sekali. Dalam memastikan semua dapat juadah sendiri. Di hiburkan kami dengan gurauan senda, kami leka dalam nikmat dipinjamkannya.

"Adik suka makan keli ya?" Dia bertanya kepada diri ku apabila melihat diri ini makan sehingga menjilat jari. Dia tidak makan walau sesuap pun, cukup baginya erti kekeyangan itu apabila melihat adik-adiknya makan disitu.


(Dia yang duduk di paling kiri, berbaju kuning)

Penghujung malam berakhir dengan penuh bahagia, bagai sudah habis segala rindu disampaikan. Inilah rancangan ILAHI, ini lah malam terakhir dia bersama kami.

Jam 2 pagi, kami dikejutkan dengan deringan telefon tanpa henti. Rupa-rupanya itulah panggilan telefon yang mengejutkan kami. Dia sudah tiada lagi. Meninggal dunia sejam yang lalu - dia sudah tinggalkan kami.

Saya tidak sempat untuk bersalaman dengan dia kerana tika itu sedang tidurkan di manja di dalam kereta. Sebaik saja yang lain berangkat pulang, saya ikut pulang tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Al-Fatihah
Kekanda Hussain Hassan kembali ke rahmatullah pada Feb 12, 2013.
Semoga Allah SWT ditempatkan alahyarham di kalangan insan-insan yang beriman yang lebih dulu dari nya. AMIN YRA.

Notakaki ::
Sesungguhnya ALLAH itu Maha Kaya, diberikan kami peluang untuk bertemu buat sekian kalinya. Perjalanan kami dari rumah ke Penang dipermudahkan. Selamat tiba dan terus mencarinya. Menumpang menginap dirumah adik beradik, juga ALLAH mudahkan - mudahkan untuk kami bergerak secara berkumpulan tika proses memberitahu adik-beradik dan saudara mara yang lain - menguruskan jenazah - menuju ke tanah perkuburan - dan perkebumian. Terlalu banyak yang telah ALLAH berikan tika musibah diberikan. Saya bersyukur dengan nikmat yang ini walau pada masa yang sama, kami kini sudah kehilangan. ALLAH itu Maha Adil kerana sesungguhnya DIA Maha Mengerti pada permintaan sekeping hati insani.

Wednesday, February 6, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit ... Selamat Tinggal

Oleh : Ngajad

Lelah seorang aku
tika mencari barisan madah untuk ku sajikan lalu ku jadikan
kelopak-kelopak puisi rindu
untuk menghiasi taman syurga biru
masa telah meragut separa nyawa
seorang aku kini semakin senja
usia bukan alasannya
rapuh pergerakkan ku
pada bekalan ilmu yang mahu ku bawa
tidak kuat berdiri ku
disaat badai melanda, bah pada takdir sayu

Namun bagaimana lagi aku terdaya
masa itu hampir tiba
disaat harus berpisah jasad dan jiwanya
kerana sebuah perjanjian, cinta di dunia ini harus ku korbankan
sakit dan luka tidak boleh dipersalahkan
sudah jauh kenangan lama ku tinggalkan
dan kini kehidupan lain dalam penantian

SELAMAT TINGGAL usia lama
cukuplah sampai disini saja
SELAMAT TINGGAL derita sengsara
ku bawa parut yang terguris di dada
SELAMAT TINGGAL patah hati
yang terluka ku bawa pergi
SELAMAT TINGGAL air mata jiwa
basah linangan akan selalu ada

Tinggal dunia dengan ratapannya
tak mungkin aku turut mampu untuk besama
sungguh mahu menunggu sehingga di penghujung rindu
akan tetapi sampai disini saja ... di hujung nyawa ku
ku persembahkan puisi di usia baru ku.
(06022013)

***
http://www.youtube.com/watch?v=ZC6XtBe2i6U

"Izinkan aku pergi ...
 Namun bagaimana lagi semuanya harus ku jalani
 Selamat tinggal, ku doakan kau selalu bahagia
 hanya pesan ku
 jangan lupa kirimkan khabar mu ..."
 (Selamat Tinggal - Broery Marantika)
***

Cerpen ini KHAS untuk MANJA (Siti Khadijah Sallehuddin)


PANGGILAN RINDU
Oleh Shahrizad Shafian

 Gerimis senja ber kidung sepi di kaki perigi. Kala kemarau panjang tiada menghilang. Di hentak tangisan nan sepi pada rindu yang tiada bertepi. Sehingga kini belum tiba pada yang dinanti. Suram gelama bermandi paya, pada siang terik mentari. Alangkah indahnya malam, andai selalu bernyawa pada kekasih hati yang kini sunyi tanpa warta diri. Tidak kempunan keinginan raga, andai kekasih pulang seketika cuma. Buat melepaskan rindu sebak di dada, buat menyatakan bahawa cinta itu masih ada.

 “Assamualaikum ! Assamualaikum !” ditinggikan suara garaunya dari luar halaman rumah yang tidak bertar tanahnya. Mungkin sebab hujan tadi siang, keadaan agak becak di persekitaran rumah ini. Semak samun yang tumbuh di sisi rumah kelihatan rimbun, bagai belukar mini akan rupanya. Atap yang terjelir keluar di hadapan rumah  sudah tua mungkin pembinaannya. Namun ini tetap kelihatan seperti sebuah rumah. Sebuah rumah yang memberi melindungi mereka yang serba daif dalam dunia NYA.

“Mungkin tiada sesiapa di rumah agaknya, Cik Seri.” Ibu jarinya menuding ke arah pintu utama tersebut. Yang tadi diberikan tanggung jawab untuk memberikan salam kini membuat ulasan sendiri. Kerana kesunyian tiada yang menyahut menjadikan  rumah itu tiada bertuan.

 “Cuba sekali lagi. Encik Bakar. Mungkin tak dengar tadi.” Cik Seri tiada berputus harapan kerana kunjungan ini harus terjadi. Biar berlama berdiri di luar rumah sudah tentu rumah ini sudah bertuan. Alamatnya betul, malah penunjuk jalannya juga tiada salah. Encik Bakar tidak sempat menghabiskan ucapan salamnya kerana sudah berbalas kini.

 “Waalaikumusalam. Waalaikumusalam. Siapa tu ?” Suaranya bergegas datang dari dalam rumah. Dalam masa yang terpantas dia kini menyelak kunci rumah dan membuka pintu utama, kuat bunyinya.
 “Maafkan kami mengganggu, nak tumpang tanya Puan. Betul ke ini rumahnya Tajul?” Encik Bakar segera mendapatkan kepastian.

 “Ha-ah! Ya, ya. Ini rumah  Tajul. Ada apa ? Awak siapa?” lengan baju kurungnya dilepaskan kembali sehingga ke paras siku  dengan cepat. Matanya liar dalam mahu mencuba meneka siapakah tetamu dan apakah mahu. Malah wajah-wajah mereka sama sekali tidak dikenali. Ini lah pertama kali.
 “Saya  Bakar dan ini Cik Seri. Kami  mencari Tajul. Dia ada di rumah, Puan?” Encik Bakar begitu berbudi ketika berdepan dengan wanita yang lebih tua dari dirinya. Tetapi memadai dengan panggilan Puan untuk dia.

 “Oh cari Tajul. Tajul tak ada. Dari pagi tadi dah keluar, sampai sekarang belum balik-balik lagi. Mungkin dia ada di ... Eh ? Ini Seri, Seri yang Seri ke tu?” Ibu Tajul dengan tiba-tiba terbantut apabila meneliti Cik Seri sejak dari tadi. Imbasan wajahnya seperti yang pernah disebut-sebut oleh Tajul. Saling tidak tumpah jauh perginya. Tergamam Cik Seri dengan pertanyaan itu.

 “Puan kenal dengan Cik Seri?” Encik Bakar  mencelah.

 “Rasa macam kenal. Betul ke ini Seri yang selalu disebut oleh Tajul tu?” Ibu Tajul menjadi teruja kerana kini benarlah akan apa yang selalu dikatakan oleh Tajul, suatu hari nanti, buah hatinya akan datang bertandang ke rumah. Tajul akan terus menanti walaupun untuk seribu tahun lagi.

 “Betul lah Puan. Ini lah Cik Seri.” Encik Bakar memberikan kepastian. Wajah ibu Tajul kini sudah berubah, dalam perubahan yang sangat baik. Dan Cik Seri turut menyambut dalam tidak terduga.

 “Maafkan saya Ibu sebab datangnya kami tidak berjemput, hadirnya kami tidak perlulah disambut. Seri harap Ibu dapat terima Seri seadanya.” Cik Seri menyampaikan betapa terharu akan hatinya di saat ini. Kerana disambut dan di terima dalam keadaan yang sungguh syahdu. Sama sekali Cik Seri tidak menyangka Tajul akan menceritakan akan kewujudan dirinya kepada Ibu Tajul. Mengukur baju pada diri sendiri yang tiada berpunya apa-apa, Cik Seri merasa sangat beruntung.

 “Alhamdullilah. Ibu senang Seri datang. Datanglah. Tak apa. Rumah Ibu, rumah Seri juga.” Seakan ada daya tarikan yang menarik mereka dua orang asing. Buat pertama kali bertemu dan kini dalam pelukan seperti sudah bertahun-tahun memendam rindu.

 “Meh, meh, masuk Seri. Meh masuk. Ibu sediakan nasi kuning untuk Seri ya. Tajul pernah kata yang Seri tidak pernah makan nasi kuning. Tu yang Tajul pernah berpesan pada Ibu, apabila Seri datang rumah kita, mesti kita sediakan nasi kuning untuk Seri. Tak boleh, jika tak boleh. Seri tunggu Ibu masak ya!” Ibu Tajul sibuk menunjukkan ruang untuk tetamunya duduk. Mementingkan keselesaan mereka menjadi keutamaan. Dalam fikirannya kini sudah mahu menyediakan nasi kuning untuk tetamu yang sudah lama di nanti-nantikan. Ramuan untuk menyediakan juadah istimewa sudah terlintas di fikirannya satu demi satu. Dalam sekali lalu, dia tahu, segala bahan yang di perlukan kini lebih dari mencukupi. Cik Seri merasa serba salah kerana kini Ibu Tajul bersungguh-sungguh.

 “Eh! Jangan macam tu Seri. Nanti Tajul marahnya Ibu. Tak apa. Tak apa. Seri rehat dulu. Biar Ibu sediakan ya. Lagi pun semua bahan-bahannya sudah ada kat dapur tu. Tinggal nak masak  saja tu. Seri jangan bimbang lah ya.” Ibu Seri benar-benar mahu menunaikan hajat anaknya Tajul.

 “Tajul ke mana Puan ?” Encik Bakar memikirkan alternatif.

“Tadi pagi ada dia cakap nak tangkap ikan di  tepi sungai. Selalunya waktu begini dah balik tapi entah lah kenapa belum lagi baliknya. Takut-takut dia singgah kat mana-mana kut.” Ibu Tajul menjelaskannya dengan lehernya di panjangkan ke luar jendela rumah. Cik Seri dan Encik Bakar bertentangan mata.

 “Biar kami saja yang pergi panggil Tajul balik. Di mana sungai tu?” Encik Bakar mohon untuk memberi bantuan. Ibu Tajul memberi mental peta pada Encik Bakar arah di mana terletaknya sungai yang selalu di kunjungi oleh Tajul. Dalam masa dua minit terpantas, Encik Bakar sudah pun hafal akan selok-belok ke sungai tersebut. Cik Seri ikut sekali. Tinggalkan Ibu Tajul kembali sendirian untuk menyediakan hidangan yang harus di tunaikan.
***
 Di sungai ini dilepaskan segala asa. Dendam duka dan nestapa seadanya. Dalam penantian gerabak dicari, apakah mungkin ada hari kekasih akan kembali. Tenang sungai berkocak rindu, langit menangis bumi sudah tahu. Pulanglah kekasih, pulanglah sayang. Walaupun pada kepulangan ini, yang terakhir kalinya jadi.
 “Kat situ tak ada ikan abang. Selalunya kat hujung sana. Tapi rasa-rasanya hari ini, ikan macam merajuk lah pulak. Macam tahu-tahu aja, ada orang akan berputus kasih nanti.” Dia menghampiri sebaik saja dia terlihat kelibat insan lain di tempat yang sama. Selalunya tempat sunyi seperti ini, jarang mendapat kunjungan dari orang-orang kampung. Namun itu tidak menghalang sesiapa saja yang mempunyai minat untuk memancing di hujung minggu, seperti dirinya. Semak belukar menutupi hampir separuh dari tubuh insan yang baru di tegur tadi. Redup senja kian bermanja pada angin yang melambainya.

 “Abang bukan nak tangkap ikan kan?” Baru di sedari akan dirinya bahawa, orang itu bukan mempunyai niat yang sama, apabila melihat pakaian yang dikenakan pada tubuhnya. Berkemeja kemas dan berkasut pejabat. Malah rambutnya juga di sisir rapi. Selepas dua kali pandang, kebarangkalian dia bekerja seperti pemandu peribadi. Dalam memberikan tindak balas, di geleng kepala beratnya cuma sekali, itu sudah memadai.

  “Habis tu ada apa abang ke sini?” mengeringkan keringatnya yang kini membasahi dahi dan wajahnya dengan tuala kecil yang baru di ambil keluar dari kocek belakang seluarnya.

 Dengan setapak langkah dia ke kiri, dengan serta-merta kelihatan ada satu lagi insan yang dibelakangi. Segala pergerakan terhenti. Nafasnya tersekat-sekat. Pandangannya kabur. Imbangannya hampir terumbang ambing. Denyutan jantungnya tersangkut-sangkut. Keringat terasa dingin. Dia nampak dia.
“Tajul” suaranya lembut menghalusi ruang udara di antara mereka. Cik Seri mengukirkan senyuman manis di hujung simpulannya. Matanya tiada daya menadah air mata rindu. Kini mengalir di pipi merahnya. Debaran kian terasa. Begini kah rupa kekasih ku? Begini kah rupa paras buah hati ku?

 “Se ... Se ... Seri ?” Tajul terkejut.

 “Seri datang Tajul. Seri datang menepati janji.”

“Ya Allah !” Tajul rebah ke lantai bumi dalam rupa bersujud dilaksanakannya. Biar pun basah dan lembap tanah ini, namun tiada ternilai akan kegembiraannya. Dengan segera Tajul bangkit kembali. Memperbetulkan kesederhanaan pada busananya. Lusuh dan sudah tiada berwarna pada kemeja T nya dan seluarnya sudah tiada lagi segaknya. Namun bagi Cik Seri, itulah pemandangan yang paling indah yang kini mengambil tempat di sudut di hatinya.

 “Kenapa Seri nak datang tak cakap? Sampai ke sini Seri cari Tajul?” terkebil-kebil matanya melihat kecantikan yang ada pada wajah kekasihnya. Tajul merasa kesyukuran yang teramat.

“Tajul selalu ke sini seperti yang selalu Tajul ceritakan. Apakah berada di sini dapat memberi ketenangan pada Tajul?” Cik Seri teringat pada perbualan mereka suatu ketika dahulu. Tajul akan berlari ke sungai untuk mencari pada yang tiada kerana tiada daya menampung ujian di dunia NYA.
 “Hanya di sini lah tempat Tajul. Mahu ke mana lagi Tajul ini.”
***
 Di teratak kasih berseri kini. Tiada cahaya , hamparan lama. Kerana dia cinta abadi, hadirnya pembawa bahagia. Riak pagi mencari erti pada malam bermimpi ngeri. Tiada indah kunjungan yang ini kerana hadirnya membawa erti tersendiri. Nasi kuning air tangan Ibu Tajul di jamah sudah. Ibu tidak kempunan, Tajul tidak terkilan. Mana cinta yang dulu pernah menghiasi. Memberi cahaya di malam hari. Memujuk hati dalam rintihan, membelai jiwa dalam kedukaan. Hilang lah sudah, ketawa ria, kini berganti duka nestapa. Hilanglah sudah intan permata, kini diberi derita selamanya. Pergi mu sayang, pergi berteman. Kerana kasih dikau turutkan. Pergi mu sayang, tinggal Ibu sendirian, kerana kasih Ibu relakan.

“Tajul suka sangat ke sungai. Tak kira waktu hujan ke. Dah suka memancing orangnya, dari dia di bangku sekolah lagi. Kalau tak ke sungai nak ke mana lagi si Tajul tu. Tapi yang saya pelik kan Kak, polis dan pasukan penyelamat bertungkus-lumus mencari selama tiga hari,tiga malam, tak jumpa-jumpa.  Macam mana kekasihnya Tajul boleh tahu di mana mayatnya Tajul, sedangkan dia masih berada di luar negara, kan?.” Jiran tetangga yang prihatin dengan tragedi, kini hadir menemani.

 “Seri sendiri yang mencari arwah.” Ibu Tajul menjelaskan pada jiran yang sudi ke mari.
“Seri balik ke sini ke Kak? Mana mungkin kak. Kan jauh tu!”

 “Tak, dia tak balik. Dia tak sempat nak balik.” Ibu Tajul  kini sudah memahami tafsiran erti mimpi di siang hari.
Untuk saat seperti ini kebisuan itu lebih bermakna.

Kerana mereka pernah berjanji untuk bertemu di hujung rindu. Tajul dan kekasihnya kini bukan saja berkongsi cinta yang nyata malah mereka kini memiliki tarikh kematian yang sama.

~ Panggilan rindu mu telah memanggil aku untuk kembali ke pangkuan mu.~
***

Thursday, January 24, 2013

Ngajas'd Tiga Seringgit ... Salam Mahabbah

Oleh : Ngajad

Shollaatullaah Salaamuallah
Alaa Tohaa Rasulillah
Shollaatullaah Salaamuallah
Alaa Yassin Habibillaah

Sesungguhnya alam ini
sangat mengerti
keredupannya saling menutupi
tuap kepanasan pagi
di tempias hati
bayu dari barat daya
dan timur kiri
berkumpul asa
turut melafazkan zikurullah
di angakatan maya
merangkupi kehebatan
ciptaan Ilahi
pada langit ke tujuh
di ukirkan
kisah Mahabbah
yang menjadikan lutisnar
pada para jiwa-jiwa

Dunia yang sudah uzur dan tua
hari ini bangkit kembali
menyambut kelahiran
pada seindah rupa selengkap rasa
kesempurnaan buat panduan hamba-hamba
Cahaya bersit mengisi
pengertian satu kecintaan
kala dititipkan dari kejauhan ini

Salam kerinduan ini ku jaga rapi
melindungi daripada segala
hasad dan murka dengki
pada luka-luka siang ku baluti dengan kesetiaan ku pada mu
pada derita kesengsaraan ini
ku cari penawar atas nama cinta
pada setiap hela nafas
ku menyebut nama mu, tiada daya untuk berdusta

Dalam sujud yang kian rapuh ini
beralaskan airmata duka
dalam kesunyian seperti ini
memohon dalam hampa bersalut kecewa
saat itu akan tiba
mengharapkan lambaian mu
menyebut dan memanggil nama ku
berlapis himpunan dosa
kesalan pada kekurangan
tidak cukup bekalan
menaruh harapan bisa ku mendapat Syafaat mu
Ya Rasulullah
Ya Habiballah
Ya Labbaika, tempatkanlah baginda di Syurga MU yang paling indah ...

(Salam Maulidur Rasulullah SAW - 10 Rabiulawal 1434)
***


Friday, January 11, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit ...Assalamualaika Ya Rasulullah

Oleh : Ngajad

Mereka bilang wajah mu umpama bulan yang menyinari malam syahdu
peumpamaan Qamar di tengah lewat malam
cahaya NUR mu bersinar menembusi dusta-dusta cinta
tegap tubuh mu membidang akan dada mu
berdepan dengan apa jua rintangan yang menghalang diri
senyuman mu sedikit namun tetap manis
pada setiap pemandangan yang mencuri ke arah mu
malah seharuman limau kasturi akan penyampaian lisan mu
bersih dan serba licin permukaan wajah mu
memberikan ketenangan yang berlanjutan
rambut mu sekadar, sekadar melepasi separa cuping deria mu

Itu apa yang dibilang oleh mereka, mereka yang bijaksana dan bijaksini
akan tetapi kecantikan di wajah mu itu
tiada bulan secantik pada ketampilan wajah mu
dikau tetap cantik tanpa mengira malam mahupun siang

penderian mu
kesabaran mu
kebijaksaan mu
keadilan mu
kelembutan mu
kepimpinan mu
kehebatan mu
kemesraan mu
kasih sayang mu
sentuhan mu
perwatakan mu
pengorbanan mu

segala dan setiap sesuatu itu yang dikau miliki merupakan kecantikan mu
sedangkan Qamar itu hanya mampu memberi sinar hanya tika sebahagian dunia itu berada di dalam kegelapan. Apabila sebahagian lagi terus setia dalam menanti kehadiran bulan.

Dikaulah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling indah buat kami yang serba serbi tidak mempunyai untuk merasa keutuhan sebuah kasih sayang yang tidak pernah sekali berbelah bagi. Kau adalah permulaan segala-galanya. Dan di akhirnya nanti, dikau akan ada menemani. (buat insan-insan dalam pilihan)

Ya Rasulullah SAW
Tiada yang lebih indah, kala cinta mu dikau sebarkan.
Tiada yang lebih bermakna, di ambang maut, kau mengingati kami.
Tiada yang lebih berharga, apabila kebenaran Islam dikau mahu kami miliki

Ya Labbaika
Selawat dan salam buat junjungan baginda Rasulullah SAW, dan salam kesejahteraan buat ahli keluarganya, jiran tetangganya dan para sahabat baginda.

Kesetiaan ku hanya pada mu, Ya Allah SWT.

***

Thursday, January 10, 2013

Ngajad's Tiga Seringgit ... Cerpen

Oleh : Ngajad


Makan petang bersama Maksu

Petang ini kelihatan langit cerah sekali. Tiada awan demawan yang duduk berkumpul mahupun kumpulan langit gelap menutupi permukaan bumi yang indah ini. Malah lebih berseri lagi apabila petang ini, kami sekeluarga tidak sabar-sabar dalam menantikan kehadiran seseorang yang sangat istimewa buat kami. Petang ini Maksu akan datang berziarah kami. Lirikan senyuman di bibir kami tidak putus-putus sejak menerima berita baik ini.

Petang itu ...

Satu persatu nama kami di panggil. Dalam nada suara yang meninggi namun tiada pernah sekali kami beranggapan suara itu mempunyai niat yang tidak baik. Duduk di hujung meja utama, matanya kelip-kelip mencari sesiapa lagi yang tersorok di cerok dapur.

Maksu bertanya, gerangan siapakah yang menyediakan lauk assam pedas ini. Lalu dengan segera Che Nah menjawab ... saya. Maksu sambut dengan senyuman dan tanpa berlengah Maksu sampaikan sampul duit kepada Che Nah. Che Nak terima dan mengucapkan terima kasih. Kemudian Maksu bertanya lagi, siapa pula yang masak sayur masak lemak ini. Tanpa sesaat lewat, Gi pula menyahut dan menyatakan bahawa itulah hasil air tangannya. Dan Maksu pun menyerahkan sampul duit kepada nya. Dengan berbalas senyuman Gi terima dengan gembira. Jemari Maksu kini merasa kehalusan nasi putih gebu yang disenduk elok kini berada di dalam pinggangnya lalu bertanya, siapa pula yang masak nasi ini. Dengan suara yang lembut isteri Didi mengaku bahawa itulah kerjanya tadi – membantu di dapur pada masa yang sama sibuk menguruskan anak kecilnya. Maksu melambaikan tangannya dalam memberi isyarat agar isteri Didi menghampirinya dan terus di sampaikan sampul duit kepada nya. Isteri Didi tersenyum manis sebaik saja dia menerima sampul tersebut. Dan sebelum Maksu mulakan membaca doa makan, tangannya pergi ke arah di mana gelas di sisi kirinya yang di penuhi dengan air sirap dan Maksu pun bertanya, siapa pula yang telah menyediakan air sirap ni. Dengan tersipu malu, Kak Na mengaku bahawa itulah yang termampu dia lakukan ketika membantu di dapur tadi. Dengan senyuman penuh rasa hormat Maksu panjangkan tangan untuk disampaikan sampul duit itu kepada Kak Na dan mengucapkan terima kasih atas perkongsian kasih sayangnya selama ini. Kak Na terima dengan senang sekali.

Kami tidak pernah meminta apa-apa daripada Maksu, lebih-lebih lagi duit. Namun Maksu sikapnya yang selalu begitu. Suka memberi dan sukar untuk menerima. Namun Maksu selalu memberi pujian kepada sesiapa saja yang suka menghulurkan tenaga dalam memberi usaha sama lebih-lebih lagi adab kita sekeluarga.
Sekali lagi Maksu berjaya meletakkan senyuman di bibir kami dan menyedarkan kami bahawasanya walaupun lauk itu hanya sekadar, sekadar saja. Namun itu sudah cukup memadai untuk kita sekeluarga. Asalkan kita duduk semaja dan menghargai setiap kasih sayang yang diberikan dalam apa jua bentuk pun.
Kini sudah setahun berlalu, kali terakhir Maksu duduk semeja dan makan petang bersama sudah lama tiada. Apakah Maksu akan datang berkunjung lagi, kami tidak pasti. Namun setiap kali petang itu tiba kami selalu berharap Maksu akan singgah seketika sebaik saja langit itu kembali cerah dan awan demawan itu duduk bersama.

Dan hari ini, apabila kami sediakan hidangan assam pedas, sayur masak lemak, nasi putih dan sirap manis, rasanya kini sudah berbeza. Tidak sama ketika ada Maksu yang duduk di hujung meja.

Andai mampu waktu itu meluangkan sedikit masa, andai kebarangkalian Maksu tiba pada petang ini, kami setia menyambut Maksu ... kemungkinan tidak tersedia lauk pauk akan tetapi kami akan sambut Maksu dengan penuh kerinduan yang menusuk kalbu.

***